Kegiatan Live In
Berkisan 2016
Selama seminggu, tepatnya dari
tanggal 24 Oktober 2016 sampai 28 Oktober 2016, para siswa-siswi kelas XII SMA
YOS Sudarso Karawang baik kelas IPA maupun IPS mengikuti kegiatan Live In di
daerah Sleman, Yogyakarta. Kurang lebih 118 siswa-siswi ikut berpartisipasi
dalam kegiatan ini. Para siswa-siswi juga dibimbing oleh 6 guru pendamping.
Kurang lebih kegiatan ini dilaksanakan di kurang lebih 50 rumah pamong yang
dibagi dalam beberapa dusun antara lain Dusun Pajangan, Dusun Jlamprang, Dusun
Karangkepuh, Dusun Mlaten, Dusun Karangtanjung, Dusun Grobokan, dan Dusun
Mlaten.
Kehidupan di desa memang berbeda
dengan kehidupan di daerah Kabupaten Karawang. Ini jelas terasa dari lalu
lintas, pekerjaan, serta kerukunan / kekompakkan antarwarga desa di sana.
Warga-warganya pun sangat ramah dan murah senyum. Saya saja yang biasanya
jarang tersenyum, bisa tersenyum lebih dari 50 kali sehari selama di sana
hehehe. Yang saya paling sukai memang kerukunan serta kebiasaan pemuda di sana.
Saat ada acara senam saja, semua pemudi-pemuda berkumpul untuk berjoget serta
bercanda tawa bersama-sama dengan diiringi lagu daerah sekitar.
Para siswa-siswi mulai dilepas oleh
guru pendamping mulai tanggal 24 Oktober 2016 pukul 7 pagi. Saya kebetulan
tinggal bersama Felix Suanto. Kami mendapat tempat tinggal di dusun Jlamprang,
tepatnya di rumah kepala dukuh.
Pada hari pertama memang kami berdua
sudah mendapat pekerjaan. Namun hari-hari selanjutnya kami kebingungan mencari
pekerjaan. Pada hari pertama setelah mandi, saya dan Felix membantu mencatat
data warga lansia dusun Jlamprang dan Karangkepuh. Namun setelah itu, kami
berdua tidak mendapat pekerjaan tetap. Kami hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan
ringan seperti membereskan tempat tidur, menyapu halaman, serta mencuci piring.
Namun saat tidak ada pekerjaan kami
berinisiatif sendiri pergi keluar rumah untuk mencari pekerjaan di rumah pamong yang lain. Kalau saya sering
membantu di keluarga pamong Pak Aris Sentot yakni pamong dari Aldwin dan
Jeffry. Pekerjaan Pak Aris atau yang lebih akrab dipanggil Pak Sentot adalah
angkringan. Saya suka ikut pergi ke tempat angkringannya. Kurang lebih jaraknya
3 KM dari rumah Pak Sentot. Di sana saya, Aldwin, dan Jeffry membantu mencuci
piring, gelas, mangkok, dan membantu membuatkan minum an. Sedangkan Felix
sering pergi ke keluarga pamong dari Cius, Michael, Lucky, dan Farrell.
Pekerjaannya adalah Cathering, sehingga Felix suka membantu membuat box makanan
serta membantu memasak juga.
Pengalaman yang hanya kurang lebih
seminggu atau tepatnya 5 hari ini lumayan bermakna bagi hidupku. Pengalaman ini
juga bisa memotivasi saya untuk kedepannya. Di sini saya bisa mengerti bahwa
betapa sulitnya mencari uang. Kita harus bekerja sampai keringat bercucuran
untuk mendapatkan uang yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Tapi bedanya
kehidupan di desa ini dengan di perkotaan adalah warga disini atau contohnya
keluarga pamong-pamong selalu tersenyum meskipun sedang dalam masalah atau sebenarnya
berkehidupan yang kekurangan. Di sini pula saya belajar bahwa kita harus bisa
selalu bersukacita walaupun hanya hidup dalam kesederhanaan. Kita harus
mensyukuri apapun pekerjaan yang kita
kerjakan karena saya sudah merasakan betapa sulitnya mendapatkan pekerjaan.
Kita sebagai sesama juga harus mau saling tolong-menolong dan bahu-membahu
dengan warga lainnya. Dengan begitu rasa kekeluargaan akan tetap terjaga dan
pastinya tidak akan terjadi perpecahan.
Komentar
Posting Komentar